Untungnya Berbisnis Lobster Mutiara

Hasil gambar untuk cara budidaya lobster mutiara

Lobster mutiara yang didatangkan Handoko berasal berasal dari Cilacap (Jawa Tengah), Pelabuhanratu, dan Pangandaran (Jawa Barat) itu terdiri atas 3 jenis: udang bambu P. versicolor, udang pasir P. homarus, dan udang mutiara P. ornatus. ‘Ketiganya tidak dipisahkan, melainkan dicampur jadi satu pas dibesarkan,’ katanya. Hal itu tak terlepas berasal berasal dari ketersediaan bibit. Saat wartawan Trubus Lastioro Anmi Tambunan berkunjung terhadap awal Mei 2009 tidak ada perlakuan istimewa untuk membesarkan lobster laut itu. Air laut sebanyak 5 m3 dibeli seharga Rp350.000 untuk mencukupi keperluan air di seluruh kolam dan akuarium. ‘Air hanya sekali dibeli. Berikutnya air tinggal difilterisasi sampai masa panen,’ kata pria 72 tahun yang memberi tambahan pakan ikan rucah sebanyak 3 kg/hari untuk tiap-tiap 700 lobster itu.

Populasi menurun

Teknik budidaya yang dirintis Handoko itu terhitung luar biasa. Selama ini pembesaran lobster hanya dikerjakan di karamba jaring apung (KJA) bekas budidaya kerapu, layaknya berjalan di Pacitan, Jawa Timur. Namun itu baru sebatas penelitian, meski hasilnya lumayan memuaskan. Dari anakan udang karang berbobot 50 g/ekor yang dipelihara sepanjang 4 bulan dengan pakan ikan rucah, bobot konsumsi di atas 100 g/ekor bisa dicapai.

Di luar habitat asli? Balai Benih Ikan Pantai Sundak, Gunungkidul, Yogyakarta, dulu meriset pembesaran anakan udang di bawah bobot 100 g/ekor memakai bak beton. Dengan pakan kerang dan bulu babi, bobot di atas 100 g/ekor dicapai dalam 2 – 3 bulan pemeliharaan. Dari penelitian itu terhitung diperoleh kebanyakan perkembangan lobster sebesar 25 – 40 g/ekor. Sayang riset itu tidak berlanjut lagi pascagempa 2006.

Menurut Dr Ir Dwi Eny Djoko Setyono MSc peluang membesarkan anakan lobster (fattening) di luar habitat aslinya sangat besar dan belum banyak dilirik. ‘Beberapa tahun ini disinyalir telah berjalan penurunan populasi lobster di alam,’ kata peneliti udang yang kini jadi kepala Unit Pelaksana Teknis Loka Pengembangan Bio Industri Laut (UPT-LPBIL) LIPI di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Penurunan itu terlihat berasal berasal dari ukuran lobster tangkapan. Di perairan selatan Jawa layaknya di Banyuwangi, Pacitan, dan Pangandaran, terhadap musim penangkapan lobster tidak cukup lebih November – Januari, lebih banyak diperoleh anakan lobster yang belum layak menjual sebab bobotnya tidak cukup berasal berasal dari 100 g/ekor.

Kalaupun laku harganya rendah, tidak cukup lebih Rp25.000 – Rp50.000/kg dibandingkan ukuran dewasa yang capai Rp350.000 – Rp400.000/kg. Anakan lobster yang laku paling banter dijadikan keripik atau peyek (Jawa). ‘Padahal selamanya bisa dibesarkan lagi dengan harga lebih bagus,’ kata Handoko yang menyebut keadaan itu sebagai latar belakang pas ia mengambil ketetapan untuk membesarkan lobster laut di kolam.

Filter sederhana

Tidak ada problem merawat lobster di luar habitat aslinya. Menurut Handoko sehingga anakan lobster nyaman, terhadap basic kolam, misalnya, ditaruh karang meniru habitatnya. Untuk menahan kanibalisme pas bagian keluarga Palunuridae itu beralih kulit, kolam diberi tanaman air layaknya red grass.

Sejatinya anakan lobster mutiara mesti area berlindung. Di alam terhadap awal perkembangan hidupnya, udang karang berbentuk bentik dan hidup merayap. ‘Anakan udang secara naluri selamanya mendekati sebuah benda yang bisa digunakan untuk merawat diri berasal berasal dari predator,’ kata Dwi Eny. Meski demikianlah pembawaan itu bisa hilang bersamaan lobster tumbuh dewasa. Artinya peluang terjadinya kanibalisme jadi kecil. Berbeda dengan lobster air tawar yang sampai besar pun selamanya punyai pembawaan kanibalisme tinggi.

Oleh sebab dipelihara di kolam, proses filterisasi jadi penting. Handoko memakai 3 filter untuk menyaring kotoran. Pada filter pertama ditaruh pasir. Filter kedua ditaruh karang-karang kecil dan filter paling akhir yang jadi sumber air tidak diberi material, tetapi menampung limpahan air berasal berasal dari filter kedua yang masuk melalui pancuran. Hal itu dikerjakan untuk tingkatkan kadar oksigen terlarut sebelum saat waktu air dialirkan lagi ke kolam.

Menurut Prof Dr Ir Asikin Djamali, praktikus budidaya ikan laut di Jakarta, kualitas air untuk ikan laut budidaya mesti bagus. ‘Rata-rata salinitas tidak cukup lebih 28 – 32 ppt, pH di atas 7, dan kadar oksigen terlarut berkisar 5 – 8 ppm,’ katanya. Di luar itu perkembangan ikan bisa terganggu. Maka berasal berasal dari itu Asikin mengingatkan pelaku budidaya di luar habitat asli untuk sangat mengukur parameter itu. Maklum kerap kali air laut yang dijual kadar garamnya berkisar 25 ppt.

Pilih kerapu macan

Komoditas perikanan laut miliki nilai ekonomis tinggi lain yang dicoba untuk dibesarkan di luar habitat aslinya adalah kerapu. Sejak akhir 2008 Bernard Raharjo di Meruya Utara, Jakarta Utara, mencoba membesarkan 500 bibit kerapu macan Epinephelus fuscogutattus di kolam 1,5 m x 3 m berkapasitas 1.200 – 1.500 liter air. ‘Kerapu macan dipilih sebab pertumbuhannya relatif lebih cepat dibanding jenis kerapu lainnya,’ kata alumnus Jurusan Komputer Universitas Bina Nusantara di Jakarta itu. Pada budidaya KJA kerapu macan berbobot 500 g/ekor dicapai sesudah sekitar

8 – 10 bulan dipelihara. Itu lebih cepat daripada kerapu tikus Chromoleptis altivelis yang mesti pas 10 – 12 bulan.

Kerapu-kerapu itu dipelihara sama layaknya yang dikerjakan Handoko. Air tertib difilterisasi dan ikan rucah jadi pakan sehari-hari. Sayang, tidak cukup lebih 2 bulan dipelihara satu per satu kerapu yang telah capai bobot 200 g/ekor itu mati. ‘Dalam seminggu 250 mati,’ kata Bernard. Hal itu berjalan akibat lonjakan amonia berasal berasal dari sisa pakan dan kotoran yang tidak tersaring ketika proses filterisasi. Kini yang tersisa hanya 2 ekor berbobot 600 g/ekor yang sesudah itu dipindahkan ke dalam akuarium.

Kabar keberhasilan budidaya kerapu secara indoor justru berjalan di Hongkong, importir terbesar kerapu tanahair. Sebuah perusahaan berasal berasal dari Australia menyulap lantai 14 gedung tempatnya berkantor di Chai Wan jadi kolam-kolam pembesaran kerapu sunu dan tikus. Di area kolam seluas 1.000 m2 itu bibit kerapu sepanjang 6 – 10 cm tumbuh dan berkembang sampai berbobot 500 g/ekor dalam tempo 10 bulan. Kunci keberhasilan perusahaan itu membudidayakan kerapu terletak terhadap proses filterisasi modern.

Melirik abalone

Di luar lobster dan kerapu, selamanya ada abalone yang kini telah bisa dibudidayakan di luar habitat asli. Di tanahair pembesaran abalone baru sebatas riset yang pas ini fokus terhadap bisnis pembibitan (baca: Titik Putih Kerang Mata Tujuh, perihal 80-81).

Meski demikianlah di negeri jiran, Malaysia, siput laut yang jadi hidangan istimewa di Perancis, Selandia Baru, dan lebih berasal dari satu negara Asia layaknya Jepang dan Taiwan, itu telah berhasil dibudidayakan. Menurut Llewellyn Mc Givern berasal berasal dari PT Tangaroa Aquaculture, eksportir abalone di Penang, Malaysia, mereka telah bisa membesarkan abalone jenis Haliotis discus di bak-bak semen di ruangan seluas 8.000 m2.

Posisi farm Tangaroa tak seberapa jauh berasal berasal dari tepi pantai, sehingga air laut bisa dialirkan langsung berasal berasal dari sana. Air laut itu difilterisasi untuk sesudah itu melalui membran berdiameter 5 mikron sebelum saat waktu masuk ke kolam pembesaran. ‘Air laut yang ‘baru’ hanya 20%, sisanya air laut lama yang diresirkulasi ulang,’ ujar Mc Givern. Dengan cara itu Tangaroa bisa memproses abalone sampai 5 ton per tahun.

Handoko, Bernard, dan Mc Givern hanya segelintir pelaku yang bisa ‘membaca’ bahwa membudidayakan komoditas unggulan perikanan di luar habitat aslinya berpeluang jadi bisnis besar. Apalagi ketiga komoditas yang ditampilkan di atas keberadaannya di alam konsisten menyusut bersamaan maraknya penangkapan liar. Handoko telah memulai, Anda? (Dian Adijaya S/Peliput: Destika Cahyana dan Suci Rahmasari)

Lobster tangkapan alam kian menyusut jumlahnya
Lobster mutiara P. ornatus
Lobster laut kini bisa dibudidayakan di luar habitat asli. Dalam tempo 4 bulan dicapai bobot 100 g/ekor berasal berasal dari 15 – 20 g/ekor
Udang karang bisa terhitung dibesarkan di akuarium
Handoko berhasil besarkan lobster laut di kolam dan akuarium
Di Hongkong, kerapu tikus ukuran 6 – 10 cm berhasil dibesarkan di kolam sampai berbobot 500 g/ekor
Kerapu tikus berpeluang dibesarkan di luar habitat asli asalkan filterisasi berjalan bagus

Harga benih lobster mutiara pas ini capai Rp20.000/ekor, tetapi benih lobster pasir Rp17.000/ekor.

Berbeda bersama dengan keadaan terhadap 2007, harganya hanya Rp3.000 hingga Rp5.000/ekor ukuran panjang tiga centimeter.

Satu orang nelayan paling sedikit mampu menjual 20 benih lobster hasil tangkapannya di dalam satu hari.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *